Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Februari 2014

Pakaian Tradisional Jepang : Yukata

Yukata adalah jenis kimono nonformal Jepang yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis. Secara harfiah istilah Yukata berarti: baju sesudah mandi. Dipakai untuk kesempatan santai di musim panas (natsu). Yukata dibuat dari bahan katun yang mudah dilewati angin, agar badan menjadi sejuk di sore hari atau sesudah mandi malam dengan air panas di Jepang.
Istilah Yukata ini lahir sejak sekitar zaman Azuchi-Momoyama. Bermula dari pakaian yang dipakai sesudah mandi yang disebut Yukatabira. Di zaman Edo, Yukatabira menjadi sangat populer di kalangan rakyat dan namanya disingkat menjadi Yukata saja. Pada zaman dahulu, memakai Yukata untuk bertemu dengan orang lain dianggap sangat tidak sopan, mengingat fungsi Yukata yang cuma sebagai pakaian tidur. Namun sekarang, Yukata dapat dikenakan kapanpun atau saat pergi kemanapun. Malah pakaian ini menjadi pakaian utama yang dikenakan saat melihat Hanabi Matsuri (Festival kembang api). Jika terlihat banyak perempuan memakai Yukata di musim panas (natsu), berarti tidak jauh dari tempat itu ada festival kembang api.

Yukata umumnya dibuat dari kain katun walaupun sekarang banyak yang dibuat dari bahan campuran, misalnya katun bercampur polyester. Yukata untuk laki-laki biasanya terbuat dari bahan dengan warna dasar gelap (seperti hitam, biru tua, ungu tua) dengan corak garis-garis warna gelap. Sedangkan Yukata untuk wanita biasanya terbuat dari bahan dengan warna dasar cerah atau warna pastel dengan corak beraneka warna yang cerah. Corak-corak kain yang populer untuk Yukata wanita adalah bunga Sakura, bunga Krisan, Poppy, bunga-bunga yang mekar di musim panas.
Perbedaan Kimono dan Yukata:
1.   Berbeda dengan Kimono yang sering disebut orang Jepang sebagai Gofuku atau Wafuku dan hanya dipakai pada kesempatan formal, Yukata dipakai untuk kesempatan santai seperti: berjalan-jalan melihat pesta kembang api, melihat festival musim panas (matsuri), atau menari di saat perayaan Obon (festival menyambut arwah).
2.   Kimono yang harganya sangat mahal hingga luar biasa mahal, harga Yukata umumnya terjangkau oleh semua orang.
3.   Kimono jadi yang hampir-hampir tidak ada toko yang mau menjualnya, di toko pakaian banyak dijual Yukata yang sudah jadi dengan beraneka ukuran dengan harga terjangkau
4.   Kimono yang menurut ukuran lebar lengannya dapat diketahui status seorang wanita (sudah menikah atau masih gadis), Yukata dapat dipakai oleh siapa saja tanpa mengenal status.
5.   Kimono yang pemakainya diwajibkan memakai pakaian dalam sebanyak 2 lapis (Hadajuban dan Juban), perempuan yang memakai Yukata hanya diharuskan pakaian dalam lapis pertama (Hadajuban).

Sama halnya dengan Kimono, agar Yukata terlihat bagus sewaktu dipakai, maka yang dipakai haruslah Yukata yang sesuai ukuran badan si pemakai. Jika Yukata yang anda kenakan ingin terlihat bagus dan pas di badan, Yukata yang anda kenakan haruslah Yukata yang dijahit sesuai dengan ukuran badan anda (order made).

Urutan agar pemakaian Yukata tampak bagus dan rapi:

1. Jika ingin mengenakan Yukata secara benar, dianjurkan untuk mengenakan Susoyoke, yakni berupa rok dalam panjang yang bisa berwarna putih polos atau bercorak dengan warna cerah. Jika tidak mau memakai atau tidak mempunyai Susoyoke juga tidak apa-apa.
2. Memakai pakaian dalam yang disebut Hadajuban dan mengencangkan tali pengikatnya.
3. Memakai Yukata. Panjang Yukata selalu melebihi panjang yang dibutuhkan si pemakai sehingga kain Yukata yang panjangnya berlebih harus diangkat sedikit ke bagian pinggang dan dikencangkan dengan menggunakan Koshihimo (sabuk pinggang dari kain)
4.   Merapikan Bagian-bagian Yukata yang sedikit longgar di badan ke arah perut dan  mengencangkannya dengan kain sabuk pengikat yang disebut Datejime
5.  Mengencangkan Yukata dengan melilitkan dan mengikatkan Obi.
Obi adalah kain yang dililitkan di pinggang, yang panjangnya sekitar 4 sampai 5 meter. Lebar Obi yang digunakan untuk Yukata adalah setengah dari lebar Obi yang digunakan untuk memakai Kimono. Ada banyak jenis simpul yang digunakan untuk pada saat mengikat Obi. Simpul Obi yang paling populer adalah simpul Bunko yang berbentuk seperti kupu-kupu. Jika belum dapat membuat simpul Obi sendiri, anda dapat membeli simpul Obi yang sudah jadi di toko dan tinggal menyisipkannya ke dalam Obi anda.
Yukata juga digunakan oleh aktor Kabuki di saat bermake-up atau peran yang mengharuskan aktor Kabuki memakai Yukata. Pegulat Sumo juga memakai Yukata sebelum dan sesudah bertanding. Begitupula penari tradisional Jepang (Nihon Buyou) mengenakan Yukata sebagai pengganti Kimono sewaktu belajar menari agar Kimono yang harganya mahal tidak menjadi basah karena keringat.

Continue Reading...

Kebiasaan Orang Jepang Membungkuk

kebiasaan orang Jepang membungkuk

Moshi-moshi minasan, yang kita perhatikan di film Jepang atau di televisi adalah kebiasaan orang Jepang yang selalu membungkuk karena menandakan rasa hormat atau sekedar minta maaf. Kebiasaan ini sudah turun temurun yang diajarkan semenjak kecil sehingga dari anak kecil sampai yang tua selalu membungkuk dalam setiap berinteraksi kepada orang lain pastinya ada aturan tertentu sesuai maksud dan tujuan serta kepada siapa membungkuk itu ditujukan. Kebiasaan orang Jepang ini disebut Ojigi. Ingin tahu lebih lanjut tentang Ojigi ini simak ulasan berikut dan semoga bermanfaat
Ada beberapa alasan orang Jepang harus melakukan Ojigi antara lain ketika memberi salam kepada teman, saudara atau ketika mengucapkan selamat tinggal, dalam memperkenalkan diri, untuk penghormatan, sebelum melakukan olahraga misal ketika mau pertandingan sumo, dalam melakukan upacara agama di Jepang, membungkuk untuk menghormati guru, pembeli, membungkuk untuk mengucapkan terimakasih, membungkuk untuk permintaan maaf dari halus sampai sangat serius dan membungkuk paling terakhir yang memiliki arti yang sangat dalam adalah membungkuk berlutut hal ini sebagai permintaan maaf karena telah melakukan kesalahan besar atau sangat fatal seperti membunuh dan juga dilakukan sebagai penghormatan kepada raja pada jaman dahulu.

kebiasaan orang Jepang membungkuk


kebiasaan orang Jepang membungkuk


kebiasaan orang Jepang membungkuk


kebiasaan orang Jepang membungkuk


kebiasaan orang Jepang membungkuk


kebiasaan orang Jepang membungkuk

Sekian penjelasan dari alasan mengapa di Jepang ada kebiasaan membungkuk ,hal ini dikarena orang Jepang sangatlah menghormati orang yang disekitarnya dan tradisi-tradisi yang sudah turun temurun. Terima kasih

Sumber: 
Continue Reading...

Followers

Blogroll

Follow The Author