Rabu, 05 Februari 2014

Naskah Drama " Haruskah Aku memanggilmu Kakak?

Share it Please

*               PROLOG:
Ella sangat membenci Fia karena dia menganggap Fia telah merebut segalanya darinya. Dia menganggap Fia telah merebut harta, saudara bahkan orang tuanya.Ayah Ella memiliki hubungan khusus dengan ibu Fia. Bahkan ayah Ella itu sudah lebih dulu menghamili ibu Fia sebelum dia menikahi ibu Ella. Pada akhirnya ayah Ella memilih hidup bersama Fia dan ibunya,dengan alasan materi. Padahal dia sudah tinggal bersama Ella dan ibunya selama 5 Tahun. Kakek mereka menulis di surat wasiatnnya bahwa beliau hanya akan memberikan semua hartanya pada cucu pertamanya, dan  Fia lahir beberapa bulan lebih dulu dari Ella. Dan karena itu ayah Ella meninggalkan Ella dan ibunya pada saat ibunya mengandung Wenda –adik perempuan Ella. Dan sekarang ayah Ella sudah meninggal.
*               DIALOG:
@ Rumah Ella
(Ponsel Ella berdering dan tertera nama Wenda di layar ponselnya.)
Ella                :“ Hallo, Wenda. Ada apa dek?”
Wenda          :“ Hallo, kak. Ibu sakit. Dia terus memanggil nama kakak. “
Ella                : “ Benarkah? Di rumah sakit mana ibu dirawat?”
Wenda          : “ Tidak di rumah sakit. Ibu dirawat di rumah, kak.”
Ella                : “ Ah, baiklah. Aku akan secepatnya ke sana.”
(Ella bergegas pergi ke rumah Fia. Sejak Fia tau ibu Ella sakit-sakitan, Fia memaksa keluarganya untuk tinggal di rumahnya. Ibunya dan Wenda bersedia tinggal di rumah Fia tapi Ella menolak)
@ Teras Rumah Fia
Pelayan         : “ Ah, nona muda, Ella. “
Ella                : “ Bibi, apa ibuku sudah baikan?”
Pelayan         : “ Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Nyonya besar baik-baik saja.”
Ella                : “ Apa bibi yakin? Bukannya penyakit ibuku kambuh saat ini? (bingung)
Pelayan         : “ Ah rupanya nona muda Fia belum memberi tahu Anda. Nyonya besar sudah berobat ke Amerika,dan penyakitnya tidak mungkin kambuh lagi.”
(Tiba-tiba saja rahang Ella mengeras,tangannya mengepal kasar,nafasnya menderu dan gigi-giginya saling bertaut,menimbulkan gemertak kecil. Ia merasa begitu bodoh! Bagaimana mungkin dengan mudahnya dia dibohongi. Dan ironisnya adik nya lah yang melakukan itu.)
Pelayan         : “ Silahkan masuk, nona muda.”
Ella                : “ Tidak perlu.” (sambil beranjak pergi dari rumah Fia)
( Fia, Wenda, dan ibu Ella keluar rumah.)
Fia                 : “Ella!” (Ella mengacuhkan panggilan dari Fia)
Wenda          : “ Kak Ella!” ( Ella juga mengacuhkan panggilan dari adiknya itu)
Ibu Ella         : “ Ella! Ibu mohon masuklah ke dalam. Sekali ini saja.” (Ella mematung mendengar panggilan dari ibunya. Dia tidak bisa mengacuhkan atau menolak permintaan dari ibunya.)
@ Ruang tamu Rumah Fia
Ella                : “ Jadi sekarang kau senang? Kau berhasil menipuku untuk menginjakkan kakiku di rumahmu, hah?”
Fia                 : “ Tidak seperti itu, Ella.”
Ella                : “ Huh! Busuk!”
Ibu Ella         : “ Ella! Siapa yang kau sebut busuk, hah? Fia? Kau tidak tahu apa saja yang dilakukannya! Berhentilah membenci apa yang sebenarnya tidak patut untuk kau benci! Buka matamu Ella! Kemana Ella yang dulu?”  (Mata Ella membelalak,Ia tak habis pikir. Kenapa ibu yang selama ini begitu lembut padanya sekarang  justru membentaknya. Sejurus kemudian matanya menatap Fia tajam.)
Ella                : ” Selamat Fia! Selamat! Kau berhasil mengubah ibu dan adikku. Kau benar-benar hebat.” (Ella beranjak pergi dari Rumah Fia.)
@ Cafe
(Seperti biasa Ella menjalani rutinitasnya sebagai pelayan di sebuah kafe. Entah apa sebabnya, Ella jadi murung karena ia teringat apa yang dikatakan ibunya saat di rumah Fia. Lalu datanglah Mira dan Sherin –kakak-adik yang adalah teman kerja Ella- mendekati Ella dan duduk di kursi depannya Ella.)
Nata              : “ Kak, kau kenapa? Kok murung?”
Ella                : “ Hm... Entahlah.”
Sherin            : “ Entahlah? Ayolah, kak. Kau tidak akan mengatakan entahlah saat tidak ada masalah. “
Nata              : “ Ya, Sherin benar. Ah, apa karena Kak Fia lagi? Harusnya kakak tidak bersedih karena hal yang sama terus, kak.”
Ella                : “ Kalian anak kecil tidak tahu apa-apa.”
Sherin            : “ Ya,ya,ya, kami memang anak kecil. Tapi anak kecil seperti kami sanggup untuk menjadi sandaran untuk orang dewasa seperti kakak.” ( sambil memberikan penekanan pada setiap kata yang dia ucapkan.)
Ella                : “ Ya! Kalian ini.”
(Nata beranjak dari kursinya menuju pintu Cafe. Kemudian membalikkan papan bertuliskan ‘Buka’ menjadi ‘Tutup’. Lalu berjalan kembali menuju kursinya.)
Ella                : “Kenapa kau menutup Cafenya?”
Nata              : “ Aku hanya tidak ingin kakak bekerja jika keadaan kakak seperti ini.”
Ella                : “ Kau gila? Kau mau dipecat?”
Nata              :” Lebih baik kehilangan pekerjaan daripada kehilangan teman sekaligus saudara, kak.”
Ella                : “ Aku jadi ingin bebas seperti kalian.”
Nata              : “ Jangan kak. Jangan jadi seperti kami.”
Sherin            : “ Kau tahu kak, beberapa tahun lalu kami bukanlah kami yang sekarang. Kami adalah Sherin yang kasar dan Nata yang tidak tahu berterima-kasih. Kami sempat membenci orang tua kami karena mereka miskin dan tidak punya pekerjaan tetap. Dan kami juga malu mempunyai kakak yang bahkan tidak tamat SMA. Kami mulai menjadi berandalan.”
Ella                : “ Apa kau sedang membual, Sherin?”
Nata              : “ Tidak, kak. Sherin berkata yang sebenarnya. Hingga saat itu seorang gadis kaya berkata pada kami. Dia berkata seperti ini, bersyukurlah kalian masih punya orang tua yang utuh dan juga kakak. Kalau kau jadi aku maka kalian akan mengubah persepsi bodoh kalian itu. Harta tak akan pernah berarti bagimu. Kalian akan berpikir yang terpenting adalah keluarga.”
Ella                : “ Kurasa perkataan gadis itu benar. Fia juga menorehkan rasa sakit itu kepadaku. Dia merebut keluargaku.”
Sherin            : “ Tidak, kak. Bukan kak Fia yang merebut keluargamu tapi kau yang membiarkan keluargamu pergi bersama kak Fia.”
Ella                : “ Apa kau sedang menyuruhku untuk tinggal di rumah Fia juga?”
(Nata mengambil sesuatu dari tasnya, sebuah rubik.)
Nata              : Kau lihat ini kak,rubik ini membuat kepalamu sakit jika tetap dengan warna yang terpisah. Tapi jika kau membuatnya seperti ini . . .”  (Nata membenahi susunan rubik, sehingga setiap sisi memiliki warna yang senada.)
Nata              : “ Maka rubik ini terlihat indah. Kau hanya tinggal mengubah warna hidupmu menjadi senada,setelah itu keluargamu akan utuh lagi Hyung.”
Ella                : “ Sejak kapan kau jadi bijaksana begitu, ha?”
Nata              : “Yah setidaknya itu bisa membuatmu tertawa, kak.”
Ella                : “ Andai saja yang menjadi  saudaraku  adalah kalian. Bukan Fia. Pasti aku akan senang sekali.”
Sherin            : “ Tidak. Kami tidak ingin memiliki kakak yang pemarah seperti kak Ella.”
Ella                : “ Hey!”
(Ponsel Ella berdering menandakan ada pesan masuk. Tertera nama Fia di layarnya. Dengan malas Ella membuka pesan itu.)
‘Bisakah kau menemuiku sekarang? Tolong datang ke Cafe dekat kampusku. Kita harus bicara.’
Ella                : “ Memangnya apa yang harus dibicarakan? Apa aku harus menemuinya sekarang? Tapi.... Ah, baiklah, aku akan menemuinya.” (Beranjak dari Cafe tempatnya bekerja menuju Cafe dekat kampus Fia.)
@ Cafe dekat Kampus Fia
Fia                 : “ Kau harus datang, Ella.” (ucapnya khawatir sambil terus menggenggam erat ponselnya.)
(Tiba-tiba Ella datang dan mengambil tempat di depan Fia.)
Ella                : “ Apa yang ingin kau bicarakan?”
Fia                 : “ Ella, kau datang.” (ucapnya tak percaya hingga tanpa sadar ia menyunggingkan senyum)
Ella                : “ Apa yang kau inginkan? Harta? Ibu? Adik? Atau apa? Katakan padaku! ” (ucapnya dengan wajah datar)
(Fia tak kunjung menjawab)
Ella                : “ Kau sudah memiliki apa yang kumiliki dulu. Apa kau belum puas? Kau benar-benar brengsek, Fia.”
Fia                 : “Apa kau yakin, Ella? Apa kau yakin aku yang brengsek? Baiklah aku brengsek. Tapi kau jauh lebih brengsek dariku.”
(Ella menarik napas. Mencoba untuk tidak emosi. Ia sadar betul ini tidak akan selesai jika dihadapi dengan emosi.)

Ella                : “ Aku hidup dengan ibu dan adikku selama hampir dua puluh tahun. Tanpa bantuan siapapun.Tanpa pekerjaan tetap dan tanpa ayah yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga. Dan bahkan aku harus bekerja ketika baru berumur sepuluh tahun. Menggantikan ayah yang direbut oleh orang lain “ (Ella melirik Fia.).
Ella                : ”Merawat ibuku yang sakit-sakitan. Bahkan aku sudah terbiasa tidak makan demi membelikan obat untuk ibu. Membiayai sekolahku juga adikku. Dilecehkan orang,dihina,diremehkan? Apakah bertahan hidup demi keluarga pantas disebut brengsek? Apa yang seperti itru namanya brengsek, Fia? Lalu kau ini apa ?!!”
(Ella diam.)
Ella                : “Lalu kau dengan mudahnya mengambil keluargaku,membuat ibuku membenciku,membuat adikku berani berbohong padaku. Apa yang seperti itu tidak brengsek? Apa yang seperti itu adalah malaikat, hah? Kau penipu.”
Fia                 : “ Bukan seperti itu, Ella. Tidakkah kau berpikir hidupku juga menderita?”
Ella                : Tentu tidak. Penipu tidak akan menderita jika dia mendapatkan apa yang dia ingin.”
Fia                 : “ Kau salah jika menganggapku bahagia, El. Terlahir menjadi yang tidak di inginkan bukanlah mudah. Apalagi jika yang tidak nenginginkanmu adalah orang tuamu sendiri. Ibu dan ayahmu. Setiap hari ibuku memakiku,memukuliku,meludahiku dan bahkan  hampir membunuhku. Bahkan aku baru melihat ayahku saat aku berumur  lima tahun. Itupun dia tak pernah menganggapku sebagai anak. Dia selalu memanggilku dengan namamu. Dan setiap aku mengingatkannya bahwa namaku adalah Fia. Maka dia akan memukuliku. Karena ulahnya aku sempat tak sadarkan diri selama sebulan.”
(Ella terdiam tak menyangka bahwa Jonghyun pernah mengalami hal-hal itu sebelumnya.)
Fia                 : Kakek. Dia tidak pernah menganggapku seperti manusia. Dia menyekolahkanku kemudian menjadikanku mesin uangnya. Entahlah aku juga tidak tahu saat itu aku sudah mendapat gelar sarjana diumur  enam belas tahun. Dan kau, kau harus bersyukur tidak mendapatkan warisan dari kakek. Aku . . .,Aku iri padamu El. Apa aku brengsek mengambil sedikit saja kebahagianmu? ”
.Fia                : “Aku hanya ingin sepertimu. Aku juga ingin memiliki seseorang yang kupanggil dengan sebutan ibu. Aku hanya ingin kau dan Wenda memanggilku kakak.”
( Ella menundukkan kepalanya)
Ella                : “ Maafkan aku, kak. Maaf.”
Fia                 : “ Sudahlah El, hanya dengan kau mau menerimaku menjadi kakakmu, itu sudah cukup.”
( Ella terkesiap saat ia melihat Wenda dan berdiri di belakang Fia.
Ibu                : “Dan sekarang jadilah kakak yang baik untuk Wenda,Kau tau ? Dia sangat ingin memelukmu”.
(Ella berlari menghampiri adik. Mereka Berpelukan. Seseorang menyenggol lengan Fia.)
Fia                 : “Ah, ibu.”
Ibu                :“Terlahir menjadi yang tidak diinginkan bukan berarti tidak boleh mendapatkan apa yang ingin diinginkan, Fia.”
Fia                 : “Ibu benar.”

*      Epilog:
Mereka bertatap salama beberapa detik lepas setelah itu mereka tertawa lepas bersama. Entah karena apa, hanya mereka yang tahu. Mungkin. Dan akhirnya, Ella pindah ke rumah Fia dan mereka berempat hidup sebagai keluarga yang harmonis.

By : Elvina

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Followers

Blogroll

Follow The Author