Ella
sangat membenci Fia karena dia menganggap Fia telah merebut segalanya darinya.
Dia menganggap Fia telah merebut harta, saudara bahkan orang tuanya.Ayah Ella
memiliki hubungan khusus dengan ibu Fia. Bahkan ayah Ella itu sudah lebih dulu
menghamili ibu Fia sebelum dia menikahi ibu Ella. Pada akhirnya ayah Ella
memilih hidup bersama Fia dan ibunya,dengan alasan materi. Padahal dia sudah
tinggal bersama Ella dan ibunya selama 5 Tahun. Kakek mereka menulis di surat
wasiatnnya bahwa beliau hanya akan memberikan semua hartanya pada cucu
pertamanya, dan Fia lahir beberapa bulan
lebih dulu dari Ella. Dan karena itu ayah Ella meninggalkan Ella dan ibunya
pada saat ibunya mengandung Wenda –adik perempuan Ella. Dan sekarang ayah Ella
sudah meninggal.
@ Rumah Ella
(Ponsel Ella berdering dan tertera nama
Wenda di layar ponselnya.)
Ella :“
Hallo, Wenda. Ada apa dek?”
Wenda :“
Hallo, kak. Ibu sakit. Dia terus memanggil nama kakak. “
Ella :
“ Benarkah? Di rumah sakit mana ibu dirawat?”
Wenda :
“ Tidak di rumah sakit. Ibu dirawat di rumah, kak.”
Ella :
“ Ah, baiklah. Aku akan secepatnya ke sana.”
(Ella bergegas pergi ke rumah Fia. Sejak
Fia tau ibu Ella sakit-sakitan, Fia memaksa keluarganya untuk tinggal di
rumahnya. Ibunya dan Wenda bersedia tinggal di rumah Fia tapi Ella menolak)
@ Teras Rumah Fia
Pelayan :
“ Ah, nona muda, Ella. “
Ella :
“ Bibi, apa ibuku sudah baikan?”
Pelayan :
“ Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Nyonya besar baik-baik saja.”
Ella :
“ Apa bibi yakin? Bukannya penyakit ibuku kambuh saat ini? (bingung)
Pelayan :
“ Ah rupanya nona muda Fia belum memberi tahu Anda. Nyonya besar sudah berobat
ke Amerika,dan penyakitnya tidak mungkin kambuh lagi.”
(Tiba-tiba saja rahang Ella
mengeras,tangannya mengepal kasar,nafasnya menderu dan gigi-giginya saling bertaut,menimbulkan
gemertak kecil. Ia merasa begitu
bodoh! Bagaimana mungkin dengan mudahnya dia dibohongi. Dan ironisnya adik nya
lah yang melakukan itu.)
Pelayan :
“ Silahkan masuk, nona muda.”
Ella :
“ Tidak perlu.” (sambil beranjak pergi dari rumah Fia)
( Fia, Wenda, dan ibu Ella keluar
rumah.)
Fia :
“Ella!” (Ella mengacuhkan panggilan dari Fia)
Wenda :
“ Kak Ella!” ( Ella juga mengacuhkan panggilan dari adiknya itu)
Ibu Ella :
“ Ella! Ibu mohon masuklah ke dalam. Sekali ini saja.” (Ella mematung mendengar
panggilan dari ibunya. Dia tidak bisa mengacuhkan atau menolak permintaan dari
ibunya.)
@ Ruang tamu Rumah Fia
Ella :
“ Jadi sekarang kau senang? Kau berhasil menipuku untuk menginjakkan kakiku di
rumahmu, hah?”
Fia :
“ Tidak seperti itu, Ella.”
Ella :
“ Huh! Busuk!”
Ibu Ella :
“ Ella! Siapa yang kau sebut busuk, hah? Fia? Kau tidak tahu apa saja yang
dilakukannya! Berhentilah membenci apa yang sebenarnya tidak patut untuk kau
benci! Buka matamu Ella! Kemana Ella yang dulu?” (Mata Ella membelalak,Ia tak habis pikir.
Kenapa ibu yang selama ini begitu lembut padanya sekarang justru membentaknya. Sejurus kemudian matanya
menatap Fia tajam.)
Ella :
” Selamat Fia! Selamat! Kau berhasil mengubah ibu dan adikku. Kau benar-benar
hebat.” (Ella beranjak pergi dari Rumah Fia.)
@ Cafe
(Seperti biasa Ella menjalani
rutinitasnya sebagai pelayan di sebuah kafe. Entah apa sebabnya, Ella jadi
murung karena ia teringat apa yang dikatakan ibunya saat di rumah Fia. Lalu
datanglah Mira dan Sherin –kakak-adik yang adalah teman kerja Ella- mendekati
Ella dan duduk di kursi depannya Ella.)
Nata : “ Kak, kau kenapa? Kok murung?”
Ella :
“ Hm... Entahlah.”
Sherin :
“ Entahlah? Ayolah, kak. Kau tidak akan mengatakan entahlah saat tidak ada
masalah. “
Nata :
“ Ya, Sherin benar. Ah, apa karena Kak Fia lagi? Harusnya kakak tidak bersedih
karena hal yang sama terus, kak.”
Ella :
“ Kalian anak kecil tidak tahu apa-apa.”
Sherin :
“ Ya,ya,ya, kami memang anak kecil. Tapi anak kecil seperti kami sanggup untuk
menjadi sandaran untuk orang dewasa seperti kakak.” ( sambil memberikan
penekanan pada setiap kata yang dia ucapkan.)
Ella :
“ Ya! Kalian ini.”
(Nata beranjak dari kursinya menuju
pintu Cafe. Kemudian membalikkan papan bertuliskan ‘Buka’ menjadi ‘Tutup’. Lalu
berjalan kembali menuju kursinya.)
Ella :
“Kenapa kau menutup Cafenya?”
Nata :
“ Aku hanya tidak ingin kakak bekerja jika keadaan kakak seperti ini.”
Ella :
“ Kau gila? Kau mau dipecat?”
Nata :”
Lebih baik kehilangan pekerjaan daripada kehilangan teman sekaligus saudara,
kak.”
Ella :
“ Aku jadi ingin bebas seperti kalian.”
Nata :
“ Jangan kak. Jangan jadi seperti kami.”
Sherin :
“ Kau tahu kak, beberapa tahun lalu kami bukanlah kami yang sekarang. Kami
adalah Sherin yang kasar dan Nata yang tidak tahu berterima-kasih. Kami sempat membenci
orang tua kami karena mereka miskin dan tidak punya pekerjaan tetap. Dan kami
juga malu mempunyai kakak yang bahkan tidak tamat SMA. Kami mulai menjadi
berandalan.”
Ella :
“ Apa kau sedang membual, Sherin?”
Nata :
“ Tidak, kak. Sherin berkata yang sebenarnya. Hingga saat itu seorang gadis
kaya berkata pada kami. Dia berkata seperti ini, bersyukurlah kalian masih
punya orang tua yang utuh dan juga kakak. Kalau kau jadi aku maka kalian akan
mengubah persepsi bodoh kalian itu. Harta tak akan pernah berarti bagimu.
Kalian akan berpikir yang terpenting adalah keluarga.”
Ella :
“ Kurasa perkataan gadis itu benar. Fia juga menorehkan rasa sakit itu
kepadaku. Dia merebut keluargaku.”
Sherin :
“ Tidak, kak. Bukan kak Fia yang merebut keluargamu tapi kau yang membiarkan
keluargamu pergi bersama kak Fia.”
Ella :
“ Apa kau sedang menyuruhku untuk tinggal di rumah Fia juga?”
(Nata mengambil sesuatu dari tasnya,
sebuah rubik.)
Nata :
Kau lihat ini kak,rubik ini membuat kepalamu sakit jika tetap dengan warna yang
terpisah. Tapi jika kau membuatnya seperti ini . . .” (Nata membenahi susunan rubik, sehingga setiap
sisi memiliki warna yang senada.)
Nata :
“ Maka rubik ini terlihat indah. Kau hanya tinggal mengubah warna hidupmu
menjadi senada,setelah itu keluargamu akan utuh lagi Hyung.”
Ella :
“ Sejak kapan kau jadi bijaksana begitu, ha?”
Nata :
“Yah setidaknya itu bisa membuatmu tertawa, kak.”
Ella :
“ Andai saja yang menjadi saudaraku adalah kalian. Bukan Fia. Pasti aku akan
senang sekali.”
Sherin :
“ Tidak. Kami tidak ingin memiliki kakak yang pemarah seperti kak Ella.”
Ella :
“ Hey!”
(Ponsel Ella berdering menandakan ada
pesan masuk. Tertera nama Fia di layarnya. Dengan malas Ella membuka pesan
itu.)
‘Bisakah kau menemuiku
sekarang? Tolong datang ke Cafe dekat kampusku. Kita harus bicara.’
Ella :
“ Memangnya apa yang harus dibicarakan? Apa aku harus menemuinya sekarang?
Tapi.... Ah, baiklah, aku akan menemuinya.” (Beranjak dari Cafe tempatnya
bekerja menuju Cafe dekat kampus Fia.)
@ Cafe dekat Kampus Fia
Fia :
“ Kau harus datang, Ella.” (ucapnya khawatir sambil terus menggenggam erat
ponselnya.)
(Tiba-tiba Ella datang dan mengambil
tempat di depan Fia.)
Ella :
“ Apa yang ingin kau bicarakan?”
Fia :
“ Ella, kau datang.” (ucapnya tak percaya hingga tanpa sadar ia menyunggingkan
senyum)
Ella :
“ Apa yang kau inginkan? Harta? Ibu? Adik? Atau apa? Katakan padaku! ” (ucapnya
dengan wajah datar)
(Fia tak kunjung menjawab)
Ella :
“ Kau sudah memiliki apa yang kumiliki dulu. Apa kau belum puas? Kau
benar-benar brengsek, Fia.”
Fia :
“Apa kau yakin, Ella? Apa kau yakin aku yang brengsek? Baiklah aku brengsek. Tapi
kau jauh lebih brengsek dariku.”
(Ella menarik napas. Mencoba untuk tidak
emosi. Ia sadar betul ini tidak akan selesai jika dihadapi dengan emosi.)
Ella :
“ Aku hidup dengan ibu dan adikku selama hampir dua puluh tahun. Tanpa bantuan
siapapun.Tanpa pekerjaan tetap dan tanpa ayah yang seharusnya menjadi tulang
punggung keluarga. Dan bahkan aku harus bekerja ketika baru berumur sepuluh
tahun. Menggantikan ayah yang direbut oleh orang lain “ (Ella melirik Fia.).
Ella :
”Merawat ibuku yang sakit-sakitan. Bahkan aku sudah terbiasa tidak makan demi
membelikan obat untuk ibu. Membiayai sekolahku juga adikku. Dilecehkan
orang,dihina,diremehkan? Apakah bertahan hidup demi keluarga pantas disebut
brengsek? Apa yang seperti itru namanya brengsek, Fia? Lalu kau ini apa ?!!”
(Ella diam.)
Ella :
“Lalu kau dengan mudahnya mengambil
keluargaku,membuat ibuku membenciku,membuat adikku berani berbohong padaku. Apa
yang seperti itu tidak brengsek? Apa yang seperti itu adalah malaikat, hah? Kau
penipu.”
Fia :
“ Bukan seperti itu, Ella. Tidakkah kau berpikir hidupku juga menderita?”
Ella :
Tentu tidak. Penipu tidak akan menderita jika dia mendapatkan apa yang dia
ingin.”
Fia :
“ Kau salah jika menganggapku bahagia, El. Terlahir
menjadi yang tidak di inginkan bukanlah mudah. Apalagi jika yang tidak
nenginginkanmu adalah orang tuamu sendiri. Ibu dan ayahmu. Setiap hari ibuku
memakiku,memukuliku,meludahiku dan bahkan
hampir membunuhku. Bahkan aku baru melihat ayahku saat aku berumur lima tahun. Itupun dia tak pernah menganggapku
sebagai anak. Dia selalu memanggilku dengan namamu. Dan setiap aku mengingatkannya
bahwa namaku adalah Fia. Maka dia akan memukuliku. Karena ulahnya aku sempat
tak sadarkan diri selama sebulan.”
(Ella terdiam tak menyangka bahwa
Jonghyun pernah mengalami hal-hal itu sebelumnya.)
Fia :
Kakek. Dia tidak pernah menganggapku seperti manusia. Dia menyekolahkanku
kemudian menjadikanku mesin uangnya. Entahlah aku juga tidak tahu saat itu aku
sudah mendapat gelar sarjana diumur enam
belas tahun. Dan kau, kau harus bersyukur tidak mendapatkan warisan dari kakek.
Aku . . .,Aku iri padamu El. Apa aku brengsek mengambil sedikit saja
kebahagianmu? ”
.Fia :
“Aku hanya ingin sepertimu. Aku juga ingin memiliki seseorang yang kupanggil
dengan sebutan ibu. Aku hanya ingin kau dan Wenda memanggilku kakak.”
( Ella menundukkan kepalanya)
Ella :
“ Maafkan aku, kak. Maaf.”
Fia :
“ Sudahlah El, hanya dengan kau mau menerimaku menjadi kakakmu, itu sudah
cukup.”
( Ella
terkesiap saat ia melihat Wenda dan berdiri di belakang Fia.
Ibu :
“Dan sekarang jadilah kakak yang baik untuk Wenda,Kau tau ? Dia sangat ingin
memelukmu”.
(Ella berlari menghampiri adik. Mereka
Berpelukan. Seseorang menyenggol lengan Fia.)
Fia :
“Ah, ibu.”
Ibu :“Terlahir
menjadi yang tidak diinginkan bukan berarti tidak boleh mendapatkan apa yang
ingin diinginkan, Fia.”
Fia :
“Ibu benar.”
Mereka bertatap
salama beberapa detik lepas setelah itu mereka tertawa lepas bersama. Entah
karena apa, hanya mereka yang tahu. Mungkin. Dan akhirnya, Ella pindah ke rumah
Fia dan mereka berempat hidup sebagai keluarga yang harmonis.
By : Elvina
Tidak ada komentar:
Posting Komentar